Selasa lalu saya berkesempatan mengunjungi Galeri Nasional Indonesia. Tempat yang sebenarnya dekat dari tempat tinggal saya, bahkan sering saya lewati ketika hendak pulang ke kampung halaman. Galeri Nasional Indonesia terletak cukup strategis di tengah kota, tepatnya Jalan Merdeka Timur No. 14, Jakarta Pusat atau lebih mudahnya depan Stasiun Gambir.
Transportasi umum ke sana pun mudah diakses, kemarin, saya menggunakan Transjakarta rute 2 ke arah ASMI dan berhenti di halte Gambir 2, lalu jalan sedikit ke arah Jalan Merdeka Timur dan menyebrang ke Galeri Nasional.
Ketika saya ke sana, bertepatan dengan pameran Excursion yang digagas oleh Jakarta Illustration Visual Art yang bertempat di gedung D Galeri Nasional. Tujuan pertama saya adalah gedung D tersebut untuk melihat karya-karya 19 seniman. Banyak lukisan dan instalasi seni yang merupakan refleksi diri seniman tersebut. Sebagai seorang amatiran penikmat seni rupa, saya sangat menikmati karya-karya mereka, tetapi sayangnya saya selalu lupa untuk mencatat nama seniman dan karya mereka sehingga saya tidak bisa menjelaskan impresi saya terhadap karya mereka dalam tulisan ini.
Setelah puas menikmati karya-karya di pameran Excursion, saya berpindah ke gedung pameran tetap Galeri Nasional. Untuk melihat karya-karya di pameran tetap, pengunjung tidak dikenakan biaya masuk, cukup mendaftarkan diri dengan menuliskan indentitas. Pameran tetap terdiri dari tiga bagian, yaitu Monumen Ingatan, Paris 1959 Jakarta 1995, dan Kode/D.
Kemarin, saya hanya fokus menjelajahi galeri Monumen Ingatan karena waktu yang tidak memungkinkan untuk menjelajahi galeri selanjutnya. Monumen Ingatan terbagi menjadi tujuh bagian sesuai periode sejarah perkembangan nasional yang menggambarkan perkembangan seni rupa Indonesia . Tujuh periode tersebut adalah Kolonialisme dan Orientalisme 1800-an--1930-an, Nasionalisme dan Dekolonialisme 1930-an--1940-an, Pembentukan Indentitas Nasional 1950-an, Masa Transisi: Prahara Politik dan Kebudayaan 1960-an, Orde Baru dan Depolitisasi kesenian 1970-an, Masa Keemasan Orde Baru: Puncak pembangunan 1980-an, Globalisasi dan Demokratisasi 1990-an--2000-an. (dikutip dari web Galeri Nasional Indonesia)
Ada dua karya yang menarik perhatian saya cukup lama, yaitu lukisan penggambaran Pangeran Diponegoro ketika di markas hindia belanda Magelang. Lukisan Nicolaas Pieneman dan Raden Saleh. Dua lukisan yang bersebelahan dengan tema yang, tetapi berbeda sudut pandang. Lukisan Nicolaas menggambarkan penyerahan diri Pangeran Diponegoro kepada Jendral De Kock. Dalam lukisan itu tergambar Pangeran Diponegoro yang pasrah menyerahkankan dirinya kepada Belanda untuk mengakhiri Perang Jawa. Sementara itu, di sebelah kanannya, terdapat lukisan Raden Saleh. Lukisan ini merupakan reaksi dari lukisan Nicolas. Lukisan ini berjudul Penangkapan Pangeran Diponegoro yang merupakan penggambaran pengkhianatan pihak Belanda yang menjebak Pangeran untuk mengakhiri Perang Jawa. Dalam lukisan ini, tergambar sang Pangeran yang menentang dan memberontak atas penangkapannya.
Setelah puas mengelilingi galeri Monumen Ingatan, saya memutuskan pulang karena kaki sudah lelah walaupun sebenarnya masih banyak gedung di GNI yang belum disambangi. Semoga suatu saat saya bisa kembali ke Galeri ini lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar