Minggu, 12 Januari 2020

Membaca Semua Untuk Hindia

November lalu saya mendapatkan kado dari seorang teman berupa sebuah kumpulan cerpen Semua Untuk Hindia karya Iksaka Banu. Jujur, kumpulan cerpen ini dan pengaranganya pun tidak pernah ada dalam radar bacaan saya.
               
Semua untuk Hindia terbit pertama kali Mei 2014 yang di dalamnya terdapat tiga belas cerpen. Ada beberapa cerpen yang sebelumnya telah dimuat oleh Koran Tempo. Terbitnya kumpulan cerpen ini pun mendapatkan sambutan yang baik dari masyarakat sehingga memenangkan Kusala Sastra Khatulistiwa pada tahun 2014.

Kumpulan cerpen ini bisa disebut sebagai fiksi sejarah karena berlatarkan era kolonialisme dengan peristiwa penting yang terjadi pada saat itu, seperti perjalanan pengasingan Pangeran Diponegoro dengan kapal dalam cerpen “Pollux” atau peristiwa Puputan 1906 dalam cerpen “Semua untuk Hindia”. Selain itu, terdapat nama-nama tokoh yang tak asing dalam buku sejarah kolonialisme, seperti Saartje Specx dan Pieter Cortenhoeff dalam cerpen “Mawar di kanal Macan” dan tempat-tempat penting yang masih bernamakan belanda.

Tema yang diangkat dalam kumpulan cerpen ini pun beragam, seperti percintaan, cerita horor, dan pengkhianatan. Yang menarik dalam cerita-cerita dalam kumpulan cerpen ini adalah sudut pandang yang digunakan oleh pengarang. Banyak cerita fiksi sejarah yang menggunakan sudut pandang dari seorang pribumi atau tokoh yang tertindas pada era kolonialisme, tetapi Iksaka Banu dalam cerita-ceritanya ini  menggunakan sudut pandang dari seorang nonpribumi, seorang Belanda, yang memiliki sikap menentang sistem pemerintahan Hindia Belanda. Jika kebanyakan cerita fiksi kolonialisme menceritakan penjajah yang jahat dan tidak mempunyai hati nurani, dalam cerita ini diceritakan “aku” seorang Belanda yang berempati kepada pribumi bahkan merasakan apa yang dilakukan oleh pemerintahan Hindia Belanda tidak sesuai dengan hati nurani mereka.

Penggunaan sudut pandang yang berbeda ini mempunyai maksud tersendiri bagi pengarang. Iksaka Banu ingin menghapuskan stigma hitam-putih dalam sejarah Indonesia yang dipelajari di bangku sekolah, yaitu kaum penjajah selalu jahat dan tak mempunyai hati nurani dan pribumi yang menjadi yang selalu tersiksa. Dengan penggunaan sudut pandang ini, Iksaka ingin menunjukkan tak semua orang Belanda memiliki hati yang kejam, bahkan banyak tokoh yang digambarkan memiliki ikatan spritual dengan Hindia Belanda, seperti pada cerpen “Keringat dan Susu”.

Diksi yang dipilih oleh Iksaka Banu pun sangat diperhatikan. Dalam cetakan kedua kumpulan cerpen ini, dia menggantikan beberapa kata yang ternyata belum hadir pada masa itu, seperti penggunaan kata “Anda” pada cetakan pertama tidak digunakan lagi pada cetakan kedua (dalam kata pengantar cetakan kedua). Meskipun latar waktu kebanyakan pada tahun 1900-an awal, percakapan-percakapan yang digunakan pun mudah untuk dipahami. Selain itu, penggambaran lingkungan sekitar tokoh oleh Iksaka Banu pun mendetail sehingga membuat suasana yang ingin dibangun dalam kata-katanya terasakan oleh pembaca.  

Bagi saya, membaca kumpulan cerpen ini memberi pengalaman baru ketika membaca fiksi sejarah, terutama dalam memandang sejarah Hindia Belanda pada lampau. Tema-tema dan sudut pandang yang digunakan dalam kumpulan cerpen ini termasuk hal baru dalam proses pembacaan saya dan membuat saya ingin mempelajari kembali sejarah Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar