Jumat, 01 November 2019

Cerita Mendengarkan

Hari ini saya mendengar cerita dari seorang teman bahwa ada adik bimbingan menangis sembari mengurung diri di kamar mandi. Sontak, respons pertama saya adalah tertawa karena mengingat adik itu setiap hari sungguh 'aktif'. Lalu, saya tanya mengapa alasannya, kata teman saya karena tidak bisa mengejarkan soal IPA dan 'diledek' oleh teman-temannya yang pada awal mulanya hanya bercanda.

Bagi kita orang dewasa, mungkin, hal ini merupakan permasalahan yang sepele dan lucu. Namun, bila kita memosisikan diri sebagai adik itu, mungkin itu adalah peristiwa yang sangat-sangat menjengkelkan. Ini adalah masalah yang besar. Dan bisa jadi membuat semacam ketakutan di masa yang akan datang.

Dari kejadian ini, saya berpikir beban masalah dan kadar pertahanan diri menghadapi masalah setiap orang pasti berbeda-beda. Masalah seseorang yang kita anggap sepele, bisa jadi adalah masalah yang cukup besar bagi orang itu. Bisa jadi sebaliknya, masalah yang kita anggap besar, untuk orang lain belum ada seberapa.

Jadi, sebaiknya, ketika mendengarkan masalah orang lain, hal pertama yang dilakukan cobalah berempati, jangan menilai masalah itu besar atau kecil menurut sudut pandang kita atau membandingkan dengan masalah-masalah kita. Dengarkan, dengarkan, memberi nasihat bukanlah hal yang wajib karena mungkin mereka hanya ingin didengarkan.

Sebenarnya, saya juga masih belajar mendengarkan orang lain :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar