Sudah sebulan lebih saya menjadi penghuni tunggal di kos saya sekarang ini, (untungnya di lantai bawah ada ibu kos dan keluarga), kos yang sejak awal saya tempati di Jakarta. Semenjak ketiga mbak kos menikah dan ikut suami mereka, belum ada penghuni baru menempati kamar kosong. Jadilah saya benar-benar merasa kesepian ketika balik ke kos. Hanya ada seonggok tv yang selalu saya hidupkan agar tak terlalu sepi, padahal saya tak benar-benar menonton.
Sering ditanya teman-teman kerja, "Kok gak pindah ke kos lain aja, Is. Ke kos mba itu loh kan ada teman NFnya..."
Jadi gini pertama, saya sudah nyaman dengan ruangan di kos. Kos ini bentuknya rumah dua tingkat, lantai pertama rumah induk semang (ibu kos), lantai atas dijadikan kos-kosan yang hanya ada empat kamar. Yang saya suka, di lantai dua ini selain ada empat kamar, ada juga ruang tengah yang lumayan besar (tempat saya nonton tv dan makan), dapur, dan tempat cuci baju dan jemur yang bersih. Bentuknya lebih seperti rumah tinggal bukan kos-kosan yang kebanyakan hanya ada lorong-lorong, kamar, dan parkiran. Saya merasa ruang gerak saya lebih bebas, kalau bosan di kamar, pindah ke ruang tengah untuk sekadar tidur-tiduran, menstrika pakaian, nonton tv, makan, guling-guling gak jelas atau aktivitas lainnya. Jadi saya tidak hanya diam meratapi dinding kamar. Dan saya suka bentuk kos yang seperti ini, ada tempat berkumpul untuk penghuni kos agar saling mengenal, tidak hanya ketika balik ke kos langsung masuk kamar dan tidak tahu tetangga sebelah (haha kebiasaan hidup di asrama yang selalu bareng-bareng :")).
Kedua, lingkungannya nyaman, aman, dan bersih. Yang membuat nyaman adalah ibu kos dan keluarganya yang baik, sering memberi makanan kalau masaknya berlebih (dan masakannya enak banget) atau mendapat 'besek' sepulang bapak kos pengajian. Mereka pun ramah, pernah bapak kos menawarkan, "Isti kalau kesepian turun aja ke bawah, ngobrol di sini". Tetangga, pakde sayur, bude warteg, teteh warteg, bapak penjual buah, pakde penjual kelontongan juga ramah-ramah. Jadi, setiap berangkat kerja, saya sering berpapasan dengan mereka dan sering terjadi interaksi dengan mereka,
"Baru berangkat, Kak"
"Iya, Pak/Bu"
Atau hanya saling bertukar senyum. Setidaknya kehadiran saya dianggaplah di lingkungan ini. Yang katanya lingkungan Jakarta sangat individualis, saya tak merasakan di tempat ini karena memang dari awal ketika pindah ke tempat ini saya mulai mencoba menyapa mereka terlebih dahulu karena saya merasa "anak baru" dan "hanya numpang". Bagi saya sebuah kesenangan sendiri kalau kehadiran saya dianggap oleh orang lain dan juga kalau belanja sayuran cabenya dilebihin atau dapat potongan harga wk. Masyarakat di sini juga tergolong agamis. Setiap pulang maghrib, saya selalu melihat bapak-bapak serta anak-anak di sini berbondong-bondong ke masjid. Syahdu. Tentram dan setiap malam apa gitu, pasti ada kajian sebuah kitab. Rasanya pengen gabung, tapi yang ikut bapak-bapak semua.
Begitulah beberapa alasan saya untuk tetap tinggal di kos ini, sebenarnya masih banyak alasan. Dan sesungguhnya alasan yang tak kalah penting adalah saya malas. Malas packing-packing barang yang sudah terlalu banyak.
Dan saya sudah terlalu nyaman untuk tetap tinggal, maka saya bertahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar