Saya adalah pengguna media sosial aktif. Setiap hari, mulai dari bangun
tidur hingga tidur lagi, saya selalu mengecek media sosial yang saya punya,
Facebook, Twitter, Line, dan Instagram. Bahkan setiap jam saya sering
mengecek media sosial yang saya miliki. Membuka aplikasi-aplikasi tersebut
ketika memegang hp adalah sebuh refleks jari yang tiba-tiba menyentuh icon
twitter atau browser.
Ini termasuk kebiasaan buruk bagi
saya. Bukan media sosialnya yang buruk, tapi intensitas penggunaan media sosial
akhir-akhir ini yang menurut saya buruk. Saya merasa kecanduan, apalagi jam
kerja saya yang terlalu selo membuat
saya selalu membuka media sosial tanpa tujuan yang berarti, hanya membuang
waktu sambil men-scroll timeline yang isinya itu-itu saja. Hal ini
berdampak pada borosnya penggunaan kuota setiap bulannya. Dulu, ketika kuliah
kuota yang saya habiskan untuk sebulan hanya sekitar 1—2Gb (karena kebiasaan
menggunakan wifi kampus juga sih), sedangkan sekarang, sebulan saya dapat menghabiskan kuota hingga
12Gb. Sungguh terlalu boros.
Tidak banyaknya kegiatan yang saya lakukan saat ini menjadi penyebab
seringnya membuka aplikasi media sosial. Ketika kuliah, waktu untuk berselancar
di media sosial tidak lebih banyak ketika saya bekerja. Saat kuliah lebih banyak
hal yang saya kerjakan, seperti rapat panitia, menjelajahi tempat baru,
mengerjakan tugas, bahkan mengobrol di bawah jembaya dan GSP pun menyita waktu
saya untuk tidak membuka media sosial. Waktu khusyuk berselancar di media
sosial pun biasanya malam hari saat di kos, itu pun kalau tidak mengobrol asyik
dengan teman kos atau saat di perpustakaan di sela-sela mengerjakan tudas dan
skripsi. Beda halnya dengan sekarang, waktu luang yang saya punyai lebih banyak
daripada saat kuliah, pun orang yang saya ajak mengobrol lebih sedikit sehingga
waktu membuka media sosial pun lebih banyak, apalagi jika membuka instagram
atau youtube, rasanya sulit untuk berhenti, padahal dua aplikasi ini yang
memakan banyak kuota.
Saya tidak menyalahkan adanya media sosial karena media sosial ini pun
memberikan banyak manfaat untuk saya, seperti mengetahui berita terkini dari
link Twitter atau Facebook (karena saya jarang nonton berita di teve), mengetahui
kabar hoaks yang sedang populer, atau kabar teman di Facebook atau Instagram, ‘oh si A mau nikah?’, ‘eh, dia sekarang
lanjut S2 di luar negeri toh?’, ‘oh si B abis jalan-jalan ke …’ dll. Yang disayangkan adalah diri saya yang
kurang bisa mengontrol intensitas penggunaan media sosial sehingga kini menjadi
candu di waktu luang. sad.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar