29 Januari 2017.
Satu tahun lalu, 29 Januari 2016, merupakan salah satu hari bersejarah dalam hidup saya. Pada hari itu saya dinyatakan lulus dari Sastra Indonesia. Ya, pada hari itu saya melaksanakan sidang skripsi.
Saat itu, saya merasa Allah mendengarkan doa saya. Saat proses menyusun skripsi saya selalu berdoa agar dimudah dan dapat ujian secepatnya. Ketika teman bertanya 'kapan sidang?' Saya selalu menjawab 'secepatnya, doakan saja'. Kata 'secepatnya' pun bagi saya saat itu masih terlalu abstrak karena yang ada dalam pikiran saya saat itu hanya ingin lulus cepat sesuai kemampuan saya.
Senin 25 Januari 2016, saya memberanikan diri ke kantor jurusan untuk menyerahkan draft skripsi sebagai salah satu prasyarat ujian skripsi. Daftar sidang pada hari itu merupakan salah satu hal nekat yang pernah saya lakukan. Pada titik itu saya tidak tahu lagi apa yang harus saya lakukan dengan skripsi saya. Dengan modal nekat dan restu dari DPS, saya ingin menyelesaikan proses per-skripsi-an ini agar dapat tidur nyenyak.
Esoknya, saya hanya di kos. Menenangkan diri untuk tidak takut saat ujian nanti. Pada hari itu saya tidak berniat belajar atau menyiapkan powerpoint untuk sidang yang entah kapan. Saya memperkiran jadwal sidang masih dua minggu, sesuai dengan prosedur waktu saat pendaftaran sidang.
Tak disangka, Rabu pagi saya mendapat sms dari sekretariat jurusan bahwa sidang saya akan dilaksanakan tiga hari lagi dari hari itu, tepatnya 29 Januari 2016. Lalu saya mengabari kepada keluarga saya dan sahabat saya. Pagi itu, saya langsung bersiap-siap pergi ke kampus bertemu dengan sekretariat jurusan menanyakan dosen penguji dan membuat powerpoint untuk sidang. Pada hari itu pikiran saya kacau. Ketakutan yang kemarin sudah saya kubur datang kembali.
Nyata adanya Allah menjawab doa saya untuk sidang secepatnya.
29 Januari 2016, saya dijadwalkan ujian pada pukul 13.00, setelah solat jumat. Pukul 09.00 saat hendak bersiap-siap datang ke kampus lebih pagi untuk latihan presentasi dan sarapan terlebih dahulu, saya mendapatkan telepon dari jurusan.
"Mbak Istiqomah, sidangnya dimajukan pukul 10 ya? Karena ada salah satu penguji yang tidak bisa pukul 13.00"
"Haaaaa... serius mba? Aku panik. Aku harus gimana"
"Iya. Maaf ya mba. Bisa kan? Yaudah mba siap-siap dulu sekarang. Nanti temlatnya saya kabarin lagi"
"Hmmm iya mba"
Setelah telepon ditutup, rasanya lemas. Panik. Tidak tahu apa yang harus diperbuat.
DPS saya pun kemudian menelepon
"Isti ujiannya, dimajukan ya"
"Iya, Pak. Tadi baru dikabarin"
"Yaudah santai aja, jangan lupa sarapan dulu. Agak telat juga ndak papa. Nanti kalau tidak ada tempat, ujiannya di ruang Pak Heru".
"Iya, Pak". Saya pasrah. Benar-benar pasrah.
Allah benar-benar menjawab doa 'secepatnya'.
Pukul 10.00 pun sidang dimulai. Saya berdoa agar diberi kemudahan dalam presentasi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan. Sidang pun berjalan dengan cepat, 10.45 saya sudah boleh keluar dari luar sidang menunggu rapat penguji. Rasanya lemas sekali, untung di depan ruang sidang sudah ada Hendy dan Rizul yang setia menunggu dan menenangkan saya ketika saya menguluh,
"duh tadi aku gak bisa baca naskahnya. Tibatiba grogi. Ngeblank. Aku harus gimana. Gimana ini"
"Udah gapapa, pasti lulus kok" mereka pun menenangkan.
10 menit kemudian, saya diminta masuk kembali ke ruang sidang untuk menerima hasil. Alhamdulillah pada hari itu saya dinyatakan lulus. Dan pada hari itu, saya pun langsung mendapatkan tiga tanda dosen penguji sebelum revisi karena akan mengikuti yudisium 1 Februari.
Beberapa menit kemudian teman-teman saya yang lain pun berdatangan. Memberi hadiah, ucapan selamat, serta menanyakan, "Kok bisa jadi pukul 10 sih, Is?".
Alhamdulillah.
Allah benar-benar menjawab doa saya untuk memudahkan proses skripsi saya dari awal hingga meminta ketiga tanda tangan dosen penguji. Doa 'secepatnya' pun terkabul. Benar-benar secepatnya. Ujiannya pun hanya 45 menit. Benar-benar cepat.
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu kamu dustakan?"
"Ingatlah, sesungguhnya pertolangan Allah sangat dekat".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar