Sabtu, 10 Oktober 2020

pri.vi.le.se

 privilise. hak istimewa. 

merupakan sesuatu hal yang harus disyukuri karena banyak orang yang mungkin sulit mendapatkan atau berbeda privilisenya cuma tidak sadar aja. Kalau di twitter, banyak orang membahas privilise karena mempunyai  orang tua yang kaya atau mempunyai wajah yang sesuai dengan standar kecantikan orang Indonesia dan saya tidak mempunyai keduanya, tetapi tidak membuat saya kecewa dengan hidup.Walaupun begitu, saya mempunyai privilise dari keluarga yang sampai saat ini saya syukuri, yaitu kebebasan. Kebebasan memilih, kebebasan untuk melangkah.

Dari sekian perenungan, ternyata saya memiliki privilise yang tak semua orang mudah mendapatkan. Beruntung mempunyai ibu yang supportif dan tidak terlalu mengekang hidup saya. Seingat saya, saya sudah diberi hak untuk menentukan jalan hidup saya sedari lulus SD. Pada saat itu, ketika akan melanjutkan SMP dan disarankan mondok, saya diberi pilihan: Metro atau Jogja? sudah barang tentu saya memilih ke Jogja, mencari suasana baru. Lalu ketika penjurusan masa SMA, Ibu ingin saya masuk IPA karena ingin salah satu anaknya bekerja di bidang kesehatan, walaupun nilai saya pada saat itu mencukupi, saya menjelaskan bahwa saya kurang suka belajar IPA dan nilai saya pun tidak terlalu baik. Akhirnya, ibu pun menerima dengan ikhlas, "yaudah kan kamu yang menjalani", begitulah kata-kata penerimaannya, 

Ketika izin melakukan perjalanan-perjalanan jauh pun selalu mudah, kalau kata ibu, "hati-hati, jangan lupa makan". Dan saya sadari ini menjadi hal yang sangat istimewa ketika saya melihat beberapa teman yang kadang tidak dibolehkan pergi jauh karena tidak mendapat orang tua. 

Apakah saya pernah dilarang? 

Pernah. Pada saat KKN, saya izin ingin KKN di luar Pulau Jawa. Seingat saya pada saat itu, ibu sangat berat jika saya harus KKN di luar Jawa, banyak pertimbangan. Mungkin karena ibu tidak setuju, saya susah mendapatkan kelompok KKN yang jauh dan akhirnya pun mengikuti penempatan LPPM di Sleman :'). 

Dan masalah jodoh pun (walaupun sering ditanyain) ibu selalu berkata, "terserah kamu nanti nikah sama siapa, yang penting bahagia, ibu gak mau jodoh-jodohin takutnya nanti malah gak bahagia."

Diberi banyak kebebasan seperti ini bukan berarti saya bisa semena-mena. Banyak tata krama dan ajaran agama yang tetap harus dijaga, "Jangan lupa makan dan solat" pesan ibu. Justru, karena telah diberikan kebebasan, saya harus bisa lebih bertanggung jawab dengan pilihan yang saya ambil.

terima kasih :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar