Kamis, 23 April 2020

Per-corona-an

Sudah sebulan lebih hiruk pikuk Covid-19 dialami. Sejak awal Maret lalu, Indonesia, khususnya Jakarta, digemparkan oleh virus ini. Sebenarnya, virus ini sudah merebak di dunia dari akhir tahun lalu, tapi ya tahu sendiri bagaimana tidak responsifnya pemerintah untuk mencegah atau mengantisipasi penanganan virus ini jika masuk ke Indonesia.

Banyak hal yang berubah dari masa pandemi ini. Secara global, perekonomian mikro dan makro mengalami penurunan. Banyak PHK terjadi, warung-warung sepi, para mitra ojek online pun kembang kempis dalam masa pandemi ini.

Selain itu, proses belajar mengajar pun terganggu. Ujian Nasional ditiadakan membuat tak sedikit para pelajar yang sudah mempersiapkan ujian dari awal kecewa. Proses pembelajaran di sekolah dihentikan dan digantikan melalui pembelajaran daring di rumah. Tugas-tugas yang banyak serta memakan kuota internet membuat para pelajar--serta guru-- menjadi gusar. 
Benar-benar masa yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya dan entah kapan berakhir.

Terdapat 7.000-an lebih sudah angka pasien postif covid-19 di Indonesia dan sepertinya masih banyak kasus positif yang tak terdata oleh kemenkes. Selain itu, pasien meninggal sudah hampir seribu atau memang sudah seribu lebih. Yang jelas itu adalah nyawa orang yang tak mengenal usia, profesi, atau status. 

Karena vaksin belum ditemukan, cara untuk memutus mata rantai persebaran virus ini dengan melakukan imbauan-imbauan dari WHO, yaitu physical distancing, sering-sering mencuci tangan, menggunakan masker, dan jaga kesehatan.

Imbauan-imbauan tersebut membuat banyak perubahan, seperti WFH bagi karyawan, PJJ bagi siswa, dibatalkan/ditunda acara-acara besar karena dilarang membuat kerumunan, bahkan pemerintah sudah melarang untuk mudik.

Seperti inilah kondisi saat ini. Benar-benar banyak perubahan. Ya memang hidup  sangat dinamis. Berubah, bergerak. Namun, kali ini terlalu cepat. 

Semoga badai segera berlalu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar