Selasa, 27 Februari 2018

Senandika Perjumpaan

Berawal dari rindu belajar filologi, lalu saya mendapatkan informasi acara Seminar dan Peluncuran Program Dreamsea (program pendigitalisasi manuskrip-manuskrip kuno se-Asia Tenggara) bertepatan dengan hari libur saya, Rabu, 24 Januari 2018. Tanpa berpikir panjang saya pun segera mendaftar. 
Sebelum berangkat sempat berpikir, "Duh nanti jadi kayak anak ilang nih, sendirian, gak tahu apa-apa lagi." Namun, Allah Mahabaik, sampai di depan Perpusnas saya dipertemukan kembali dengan tiga guru Aliyah saya Bu Evi (Wali Asrama selama tiga tahun), Pak Erwin (Guru Sejarah), dan Pak Ikhsan (Guru SKI dan koordinator perpustakaan di IC). Alhamdulillah ketika saya menyapa, mereka masih ingat saya. Akhirnya pun saya memasuki ruang seminar dengan perasaan bahagia. Perjumpaan yang tak terencana itu selalu mengesankan 😊

Setelah mendapat tempat duduk yang strategis di ruang seminar, tiba-tiba datang seorang bapak berkacamata izin duduk di sebelah saya, Awalnya saya tidak mengenali beliau, tetapi ketika melihat style-nya, saya yakin beliau orang hebat. Bu Evi yang duduk di sebelah saya pun  menyapa beliau,  "Bapak Mudji Sutrisna ya?" dan firasat saya benar, ternyata beliau Romo Mudji Sutrisno, dosen filsafat, penulis buku-buku tentang filsafat dan kebudayaan, serta budayawan terkenal. Di sela-sela materi seminar, kami pun sempat berbincang-bincang, lebih tepatnya saya mendengarkan komentar-komentar beliau mengenai materi yang diberikan oleh beberapa narasumber terutama masalah birokrasi pemerintah dalam pernaskahan di Indonesia. Selain  itu, beliau pun sedikit bercerita mengenai proyek antropologinya yang membuat saya merasa 'duh aku mah apa atuh'. 

Setelah acara seminar selesai, Pak Ikhsan mengusulkan untuk tour perpustakaan. Gedung Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yang terletak di Jalan Merdeka Selatan ini baru saja diresmikan sekitar bulan Agustus 2017. Karena gedung ini baru, desain interior dan fasilitasnya pun lebih bagus daripada gedung PNRI yang di Jalan Salemba. Gedung ini berlantai 24. Tujuan pertama kami adalah lantai 24. di lantai ini terdapat koleksi-koleksi sastra lama dan tempat membaca yang menghadap jendela dengan pandangan kota Jakarta. Sungguh tempat ini nyaman untuk saya. Di Lantai ini pun pengunjung bisa keluar ke balkon untuk melihat Monas dan Istiqlal dari sisi yang berbeda. Selanjutnya, kami ke ruang baca anak-anak (lupa lantai berapa). Ruang yang sangat menyenangkan dan penuh warna karena di temboknya terdapat mural dengan teman anak-anak. Konsep ruangan ini seperti konsep ruang baca anak di perpusda Jogja, cuma ini lebih besar. Tour hari itu ditutup dengan salat di musala perpustakaan lantai 7 (kalau tidak salah). Musalanya besar lebih mirip seperti masjid malah, nyaman dan bersih. Semoga fasilitas  PNRI ini terawat dengan baik dan akan banyak perpustakaan seperti ini di setiap daerah.  

Hari itu Allah sungguh Mahabaik. Mempertemukan kembali dengan guru Aliyah, bertemu dengan orang-orang hebat dan filolog yang keren-keren, dan dapat wawasan baru tentang pernaskahan di Indonesia. 

Suasana ruang baca anak

Bersama Romo Mudji Sutrisna dan Bu Evi

Foto di balkon lantai 24


"Siapa yang paham sejarah masa lalunya akan mempunyai jati diri yang kuat di masa kini. Kita belajar dari masa lalu, untuk meramal masa depan" kata Ketua Perpusnas saat seminar yang membuat saya tecerahkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar