Pagi ini saya terbangun pukul empat. Geluduk dan petir membangunkan saya. Kilat yang menyambar-nyambar hingga menembus kaca jendela membuat suasana mencengkam. Lalu saya mencari Kartono (boneka sapi dari teman kos kartini di Jogja) dan saya peluk boneka itu sejenak. Sepi.
Agak siang, sebelum berangkat ke kantor, TV memberitakan banjir di mana-mana. Hujan sedari tengah malam membuat kota ini banjir lagi. Seperti dugaan saya tadi pagi, mungkin akan banjir, karena sampai pukul 8 pun hujan tak kunjung berhenti. Untungnya, mendekati pukul 10.30 hujan mulai reda. Hanya rintik hujan sisa-sisa penghabisan hujan semalam. Saya dapat berangkat ke kantor tanpa harus mengeluarkan payung dari tas. Pergilah saya ke kantor terdekat menggunakan angkot.
Turun dari angkot, saya harus menyebrang untuk dapat sampai depan kantor. Siang ini, Tuhan Mahabaik, menyelamatkan saya dari sepeda motor yang melawan arus yang hampir menabrak saya ketika menyebrang, membuat jantung saya berdetak lebih kencang dan kaki lemas. Seketika itu saya mau menangis. Tapi malu.
Tuhan Mahabaik, sungguh. Terima kasih selalu ada untuk menolong saya, sekecil apa pun itu.
Alhamdulillah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar