Selasa, 28 Februari 2017

Kopi Hitam

Saya bukan pecinta kopi, yang menyempatkan waktu berkunjung ke kedai kopi untuk menyeruput secangkir kopi panas. Jika janjian bertemu dengan teman pun, kedai kopi tidak pernah menjadi pilihan sebagai tempat bertemu.
Saya bukan pecinta kopi, tetapi ketika dibuatkan kopi saya tak ragu untuk menyeruputnya hingga habis. Ya saya menikmati menyeruput kopi. Tapi saya bukan tipe orang yang mengerti perbedaan kopi robusta atau arabica atau cappucino dan jenis-jenis lainnya. Yang saya tahu kopi hitam dan kopi sachet banyak rasa. Saya menikmati meminum kopi.

Ketika saya kecil (sekitar masa-masa SD), saya sering ditawarkan kopi hitam oleh ibu saya dan saya suka menyeruput kopi yang sudah dituangkan ke piring tatakan gelas kopi. Nikmat. Ibu suka menambahkan susu kental manis ke dalam kopi. Lebih nikmat. Saya ingat, merk kopi yang sering diseduh adalah "Anak Ibu" merk lokal kopi Lampung yang banyak dijual warung klontong.

Saat MAN, saya sering menikmati kopi, tapi kopi sachet dengan berbagai rasa. Awalnya ketika minum kopi sachet tersebut, perut saya sakit, mungkin karena jarang meminum kopi lagi dan asam lambung yang naik. Jadi, saya memilih menghindari kopi bila rasa kantuk untuk begadang masih bisa ditahan. Saat kuliah pun, kopi sachet yang banyak rasa itu pun masih menjadi teman setia ketika saya begadang untuk mengerjakan tugas.

Kini, di tempat kerja, saya bertemu dengan kopi lagi. Kopi hitam. Di tempat kerja saya selalu disediakan dua jenis minuman, teh atau kopi. Awal-awal kerja, saya lebih memilih menyeduh teh daripada kopi. Namun, akhir-akhir ini saya lebih memilih menyeduh kopi hitam dengan sedikit gula (karena memang sedang mengurangi gula dan hidup saya sudah manis, wkwk).
Alasannya?sederhana. Karena pada siang hari rasa kantuk selalu datang dan saya harus tetap semangat sampai malam hari. Saya pun meminum kopi. Menikmatinya, hingga yang tersisa hanya ampas.
Saya bukan pecinta kopi, tapi saya selalu menikmati kopi hitam panas dengan sedikit gula.

Jadi ingat quote dari Pidi Baiq, "Tidak mencintai bukan berarti membenci kan?"

Jadi, kapan kita minum kopi bersama? Ohiya, kamu tidak suka kopi.
H e h e h h e

Tidak ada komentar:

Posting Komentar