Saya tipe orang yang mengingat kejadian sehari yang lalu, hari ini pada minggu lalu, bahkan kejadian bulan ini pada satu tahun yang lalu. Sebenarnya tidak ingin mengingat, tetapi kejadian-kejadian itu begitu memorable sehingga tetiba datang untuk dikenang.
Desember tahun lalu, sekitar belasan Desember, sehabis pulang dari perpustakaan mengerjakan skripsi, saya terkulai di kamar sambil meneteskan air mata, tetesan menjadi isak, lalu saya sembunyikan pada bantal buluk saya.
Tetangga kamar dan teman sekamar saya datang.
"Kamu nangis, Is? Kenapa?"
"Aku patah hati, Mba..."
"Patah hati kenapa?"
Lalu saya menceritakan tentang kejadian dan kekhawatiran saya yang terjadinya. Kekhawtiran yang sebenarnya sudah saya prediksi akhirnya, tapi sulit untuk saya atasi.
"Aku benci keadaanku saat ini, Mba. Aku benci nangis menyek-menyek kayak gini. Tapi aku gak tahu tetiba nangis aja gitu, padahal aku gak mau nangis, aku udah biasa aja, aku udah bersikap biasa aja, tapi sampe kos langsung nangis"
"Itu tandanya kamu belum biasa, Is. Nangisnya aja kayak gini. Yaudah kamu menjauh aja. Kan dari dulu udah dikasih tahu".
"Aku gak bisa tiba-tiba jauh, Mba. Masih ada hal lain yang harus aku jaga, takutnya merusak hal itu. Aku harus profesional".
"Yaudah terserah kamu, aku udah ingetin loh. Gapapa nangis dulu dipuas-puasin habis itu selesai ya nangisnya".
Keesokan harinya.
"Kamu nangis lagi, Is"
"Aku keingatan, mba. Terus gak tahu kenapa nangis lagi. Aku lemah banget sih.."
"Haha aku baru lihat kamu nangis kayak gini"
"Iyaa aku juga sebel dengan diriku sendiri" seraya tertawa.
Desember tahun lalu merupakan patah hati yang mendalam yang pernah saya rasakan. Saya benci keadaan itu, padahal pada saat itu saya harus fokus mengerjakan skripsi untuk target Januari selesai. Saya beruntung mempunyai teman kos yang mau benar-benar mendengarkan. Pada hari itu saya luapkan segala rasa sedih dan kecewa saya. Tidak sampai seminggu, saya sudah bisa bersikap dan beraktivitas normal kembali walaupun terkadang masih ingin mewek. Saya mulai fokus dengan skripsi. Untung, pada bulan itu Ibu datang ke Jogja. Setidaknya bersama keluarga perlahan-lahan saya mulai meninggalkan kesedihan yang saya buat sendiri.
Itu memori Desember tahun lalu, menyedihkan. Desember tahun ini, saya ingin membuat memori indah membahagiakan untuk dikenang Desember tahun depan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar