Rabu, 12 Oktober 2016

Telepon

Semenjak jauh dari Jogja, saya belum menemukan teman yang pas untuk diajak berbincang tentang topik apa saja tanpa ada yang disembunyikan dan kesan jaim. Saya menyadari akhir-akhir ini saya suka bercerita apa saja yang saya rasakan kepada beberapa teman dekat, terutama tentang kegundahan hidup.

Awal tinggal di kota ini, saya merasa sedikit stres karena banyak kata-kata yang hanya menumpuk di pikiran tanpa bisa dikeluarkan dengan gamblang. Terkadang saya mencoba untuk 'curhat' di twitter, tapi itu tak cukup. Saya ingin didengarkan.

Menelepon merupakan sarana saya untuk melepaskan ribuan kata-kata yang hanya berkembang biak di pikiran tanpa bisa diceritakan yang akhirnya sedikit menjadi beban. Walaupun tidak tatap muka secara langsung, setelah mengobrol dengan beberapa teman dekat saya melalui telpon saya merasa lebih bahagia dan semangat.

Saya mempunyai dua teman bercerita di telpon. Ketika berbicara dengan mereka, waktu satu jam terasa seperti sepuluh menit. Tiba-tiba bonusan telpon habis (haha). Padahal topik yang dibicarakan setiap kali menelpon biasa hampir sama. Tentang masa lalu, masa depan, hingga hal gaje nyanyi-nyanyi tidak jelas. Saya merasa lepas mengutarakan apa yang ada di pikiran saya tanpa merasa malu.

(Percakapan serius)
"Gimana nih coy cita-cita jadi dosen?"
"Duh aku bingung dengan hidupku saat ini, seakan-akan mengalir mengikuti arus tanpa tujuan"
"Nah aku juga bingung nih sekarang, masih sulit menentukan langkah-langkah selanjutnya"
"Banyak yang aku takutkan"
"Ketakutan yang kita rasakan sebenarnya kadang tidak ada, hanya kekhawatiran yang berlebihan membuat kita sedikit berhenti"
"Hahaha".

(Percakapan gaje)
"Kalo ketemu aku jangan kaget ya aku pake lipstik merah"
"Aelaaah njijiki"
"Aku baru beli lipstik loh"
"Untuk apa?"
"Buat kondangan ke nikahan kamu?"
"Masih lama kali coy"
"Lipstikku expirednya masih tahun 2019 kok, jadi kamu nikahnya jangan lewat 2019 ya..."
"2019 kita berapa tahun sih?"
" hmmm 25 tahun.."
"Bisa tuh nikah tahun segitu, doain aja biar lancar cari modalnya"
"Wkwk"

Terima kasih untuk si Nyun dan Alay yang telah bersedia menyediakan waktu satu hingga dua jam untuk mendengarkan coletahan gaje saya.

Terima kasih untuk Alexander G. Bell yang telah menciptakan telpon!

1 komentar: