Jumat, 17 Juni 2016

Teman Perjalanan

Tidak mudah menemukan teman yang klop dalam vakansi atau liburan bareng karena dalam perjalanan jauh pasti menemukan pilihan-pilihan yang harus dilewati untuk mencapai tujuan. Untuk menentukan pilihan itu, dalam sebuah perjalanan bersama perlu adanya diskusi yang tak jarang terkadang terjadi sedikit 'cekcok' yang bisa membuat vakansi menjadi tidak membahagiakan.

Saya merasa beruntung karena menemukan teman perjalanan yang klop semasa kuliah. Kami menamakan kumpulan mahasiswa jomblo yang hobi piknik ini dengan nama AntiWacana. AntiWacana mempunyai makna agar rencana yang telah kami buat tidak menjadi wacana belaka, bisa dikatakan semacan jargon juga lah.

Bermula dari ingin ikut kuliah lapangan Bipa ke Malang(biasanya kuliah lapangan disambi dengan liburan kan) pada semester lima (tahun 2015), tapi kami, saya, Rini, Imeh, Wahyu, Fian, Donnie, tidak mengikuti mata kuliah tersebut kecuali Hendy. Kami memutuskan untuk ikut ke Malang, tujuannya hanya untuk ikut liburan mahasiswa Bipa. Setelah menghitung pengeluaran transportasi menggunakan kereta, ternyata biaya yang dikeluarkan cukup banyak, maka kami bersepakat untuk pergi ke Malang sendiri menggunakan mobil Rini. Inilah perjalanan jauh kami pertama kali dengan objek yang dikunjungi Museum Angkut, Alun-alun Batu, Jatim Park, Rumah Wahyu, dan destinasi utama yang tak terlupakan, kawasan wisata Gunung Bromo.

Perjalanan vakansi pertama yang kami lalui membuat kami ketagihan untuk melakukan vakansi berikutnya. Pada bulan Oktober, kami melakukan perjalanan lagi ke Dieng, Wonosobo dengan tujuan utama sunrise Sikunir. Pada perjalanan ini, Donnie tidak bisa ikut, tetapi kami ketambahan satu anggota lagi, Deswara. Tak hanya berhenti di Dieng, kami pun sering melakukan perjalanan di sekitaran Jogja untuk melihat matahari terbit atau terbenam seperti pantai Parangtritis, Parang Endog, pantai Glagah, puncak Suroloyo, gunung Kukusan, dan terakhir Posong di Temanggung.

Dalam perjalanan vakansi, tak jarang kami menemukan banyak pilihan seperti mau tidur di mana, makan di mana, dan lewat jalan mana. Terkadang pilihan ini hampir  menimbulkan 'cekcok', bukan karena adu pendapat, tapi karena keseringan berpendapat 'terserah' atau 'manut' yang membuat kami sendiri kebingungan. Hal ini pun dapat segera terselesaikan dengan usul salah satu anggota yang diamini oleh yang lainnya.

Kami mempunyai sifat yang berbeda-beda kecuali satu, bergunjing dalam perjalanan (huehuehe), tapi perbedaan ini lah yang  membuat kami lebih saling memahami satu sama lain agar perjalanan ini tetap membuat bahagia. Sudah tidak ada lagi jaim di antara kami, tidur dengan gaya apa pun serta buang angin di mana pun sudah menjadi hal yang dimaklumi.

Menghabiskan ratusan kilo meter perjalanan dengan mereka membuat saya bahagia, menemukan teman-teman yang saling membantu dan memahami di kala membutuhkan pertolongan. Yang menyadarkan saya, terkadang tujuan bukan menjadi hal yang paling membahagiakan, tetapi proses dalam perjalanan lah yang paling membahagiakan dan selalu terkenang.

Terima kasih untuk perjalanan dan pelajaran setahun terakhir ini, Gengs. Semoga kelak kita dapat vakansi asique lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar