Kamis, 23 April 2015

Pada Suatu Malam

Pada suatu malam.
Seorang duduk di teras rumah. mengisahkan segala kecemasan dengan mata sayu namun masih memiliki secercah harapan. Bercerita sambil memainkan tangan bak seorang pejabat sedang berceramah. 
"Saya harus bagaimana?" tanyanya di akhir kisahnya
"hmm, izinkan saya berpikir sejenak" tutur teman bicaranya 
sedetik, dua detik, tiga detik, empat detik, hingga detik ke tiga puluh. Hanya ada kesunyiaan di antara mereka. Hanya ada mata yang melirik, dahi yang mengkerut mencoba untuk berpikir yang terbaik.
"Karang di pantai dulu sangat besar, kokoh, tajam, bak seorang ksatria yang perkasa yang menyombongkan kekuatannya, Setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari, setiap waktu ombak selalu menghampiri dengan kelembutannya." 
"hmm, lalu?" 
"Tahukah kau apa yang dikatakan ombak kepada karang?"
"Apakah ombak bisa berbahasa"
"Bisa".
"Lalu apa yang dikatakan ombak?"
"Hai karang! maukan kau bermain denganku hingga ke bibir pantai atau ke dasar lautan atau ke pulau lain? karang pun tanpa berpikir panjang menolak tawaran bodoh ombak.
"Lalu?"
"Ombak tak menyerah merayu karang untuk bermain bersamanya, dengan kelembutan yang selalu dia hempaskan kepada karang dan kegigihan di setiap waktu, Karang pun luluh, waktu demi waktu ia melepaskan elemen yang membentuk dirinya untuk ikut bermain dengan ombak menuju kebahagiaan bahkan kebahagiaan untuk makhluk lain.
"Lalu?"
"Kau bisa seperti ombak dalam masalahmu saat ini"
"Baiklah, untuk malam ini kau berhasil menenangkan saya. akan saya coba"
"Pergilah, langit mulai merah"
"Terima kasih, Selamat malam"
"Hai, apakah aku masih boleh memperjuangkan dirimu?"
"hmm. selamat malam"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar