Sabtu, 07 April 2012

Sebuah Pagi di Bulan Desember


Bus telah berhenti di terminal, suara dengungan kapal mengaung ditelingaku. Ini perjalanan ku entah ke berapa kalinya melewati selat sunda ini.langkah kaki ini terburu-buru menuju loket pembelian tiket, tak banyak orang yang mengantri untuk menaiki kapal, karena bulan ini bukalah bulan untuk orang transmigrans berbondong-bondong balik kekampung halaman. Aku segera bergegas melewati jembatan pejalan kaki menuju dermaga dua dimana kapal itu merapat dan siap belayar.
Kapal Nusantara, kapal yang aku naiki sekarang, dan kapal yang selalu membangkitkan aku pada memori sewaktu pagi di akhir bulan desember, kapal yang pernah membawa kita mengarungi terpaan angin selat sunda menuju pulau kelahiran kita. Aku ingat pagi itu, aku mencoba kekampung halamanku seorang diri tanpa seseorang yang menemani. Aku duduk di pinggir dek kapal yang mulai belayar melihat birunya air laut dan mencoba menahan kain yang membalut kepalaku dari terpaan angin selat sunda yang terkenal “ganas”.
Pagi itu aku tak menyangka kita akan bersua di kapal itu,kau bersama kedua orang temanmu datang melewati tempat aku berpijak, kuliat dirumu smar-samar dari mata minusku, dan akupun mencoba untuk berdiri dari tempat duduk ku untuk menyapa dirimu dan memberikan senyum terindah yang pernah aku miliki. “ kamu disini juga” sapa dirimu sepersekian detik sebelum aku mengucapkan kata-kata yang sama kepadamu, tapi faktanya lidah ini kelu bahkan untuk menjawab pertanyaan sederhana yang mungkin anak TK pun mampu menjawabnya. Alhasil hanya anggukan kepala yang dapat menjawab pertanyaan itu.
Aku masih terpaku ditempatku berpijak, beruntungnya bagi diriku, ada ibu-ibu yang menawarkan jualannya kepada kita. Suasana menjadi cair tapi otak dan lidahku masih membeku. Aku merasa bagai patung es ditengah teriknya matahari yang tak urung untuk mencair. Setelah penjual itu pergi, kedua temanmu pun ikut pergi “mau keliling-keliling kapal dulu” alasan mereka meninggalkan kiti. Kini serasa hanya ada kau dan aku diatas kapal yang belayar melewati deburan ombak yang menghadang. “Bingung???” Mungkin itu kata yang terpatri  dalam otak kita, bingung topik apa yang kita pilih untuk memulai obraolan ini?, bingung apa yang harus kita lakukan sekarang? Tapi, Tahukan Kau??? Saat itu aku merasa bahagia berada didekatmu diatas kapal itu, hal tak pernah aku sangka sebelumnya, bak Romeo dan Juliet sebelum maut memisahkan mereka.
Aku mulai mencoba memulai obrolan sederhana, jam berapa kakak berangkat?, kenapa kakak pulang diwaktu liburan yang sebentar?kok kita bisa bertemu disini ya??? Aneh , memang itu pertanyaan yang aneh dan penuh dengan ke-saltingan, dan aku pun  berusaha untuk mencerna setiap kata-kata yang keluar dari mulutmu, agar aku tidak salah menjawabnya.
“Tuhan , kau memang tahu apa yang aku mau” jerit hatiku. Kini kebekuan dalam diriku mulai mencair seiring meningginya matahari, obrolan kita pun mulai mengalir. Aku bahagia. Kini aku bisa berada sedekat ini dengan mu yang selama ini hanya bisa aku lihat dari sudut kelasku, akhirnya aku bisa berbicara langsung dengan dirimu, yang selama ini aku hanya bisa “berbicara” denganmu  lewat pesan singkat di alat komunikasi.
Dung…Dung…Dung…suara alarm kapal itu membuyarkan lamunanku, bertanda kapal akan segera merapat ke dermaga. Perjalanan ini berakhir. Alarm itu pun yang telah meyudahkan pertemuan kita pada sebuah pagi dibulan desember. Dan setelah pertemuan itu aku merasa berbagai macam bunga tumbuh liar dihatiku.
Rabu,14 maret 2012. 09.15   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar